Tiga Warga Pesisir Selatan (Pessel) yang ditembak mati Polisi Malaysia


Jenazah Warga Pessel Dimakamkan di Kampungnya

Jenazah satu dari tiga warga Pesisir Selatan (Pessel) yang ditembak mati polisi Malaysia, kemarin (7/8) sampai di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padangpariaman. Sampai kemarin, pemerintah mengaku belum memperoleh keterangan resmi dari kepolisian Malaysia terkait penembakan tersebut.

Kedatangan jenazah Siwis, 32, asal Rawang Gunung Malelo Surantiah Kecamatan Sutera itu, menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia GA 164 dari Jakarta, sekitar pukul 16.45. Baru saja setelah peti jenazah keluar dari ruang kedatangan, langsung disambut isak tangis dari keluarga besar Siwis.

Sekadar diketahui, Siwis ditembak polisi Malaysia setelah dituduh terlibat perampokan di Jalan Pulau Angsa U10, Bandar Nusa Rhu, Bukit Jelutong, Jumat (26/6) dini hari lalu.

Aksi itu dilakukan Siwis bersama dua rekannya asal Pessel masing-masing bernama Sisal, 30, dan Ade, 30. Saat ini jenazah Sisal dan Ade masih menjalani proses identifikasi data DNA di KBRI Malaysia.

Iss Sugiarto, 38, kakak Siwis saat menunggu kedatangan jenazah adiknya di BIM kemarin, mengaku tidak menyangka adiknya yang dikenal ramah itu, bernasib tragis seperti itu (ditembak, red).  “Padahal, almarhum baru sekitar enam bulan di Malaysia,” katanya.

Informasi adiknya tewas ditembak, diperoleh Iss dari kerabatnya di Malaysia. Kendati begitu, menurut Iss, keluarga besarnya tidak lagi ingin mempermasalahkan kematian adiknya.

“Kami sekeluarga hanya ingin almarhum dimakamkan secepatnya saja, agar almarhum lebih nyaman,” ujarnya sambil menghindari awak media.
Untuk proses pemulangan jenazah sendiri, menurut Iss, pihaknya harus membayar biaya administrasi kepada pemerintah Malaysia.
“Untuk kesiapan dan kelengkapan administrasi dalam proses pemulangan mayat, menggunakan biaya sendiri sebesar Rp 19 juta. Uang itu, kami dapatkan setelah meminjam kepada tetangga dan menggadaikan sawah. Kami berharap pemerintah bisa membantu,” harapnya.

Dalam penyambutan itu juga terlihat Bupati Pessel Nasrul Abit. Selain meminta keluarga bersabar dan mengikhlasan jenazah, Nasrul juga memberikan uang duka sebesar Rp 5 juta.
“Kami dari Pemkab Pessel hanya dapat membantu transportasi keluarga dan jenazah, serta sedikit santunan duka,” ujarnya.

Tak Ada Keterangan Resmi

Sementara itu, Kepala Seksi Penyiapan dan Penempatan BNP2TKI Basliyuzar mengatakan, dua jenazah masih dalam tahap identifikasi KBRI. Dia belum dapat memastikan kapan hasil identifikasi tersebut.
“Sedangkan masalah ini saja, saya baru dapat kabar lewat media dan langsung kami tindak lanjuti informasinya,” ungkapnya.

Basliyuzar belum memastikan Siwis masuk ke Malaysia melalui jalur TKI atau melancong. “Kami sedang periksa seluruh data tenaga kerja di luar negeri,” ujarnya. Sejauh ini, pihaknya juga belum mendapat keterangan resmi dari kepolisian Malaysia.

“Kami tidak pernah menerima surat keterangan resmi dari kepolisian Malaysia. Sedangkan surat keterangan resmi dari pemerintah kebangsaan Malaysia sudah diserahkan kepada KBRI. Namun, surat keterangan tersebut tidak menerangkan sebab dan kronologi penembakan terhadap korban. Begitu juga berita acaranya. Hanya surat serah terima,” katanya.

Jika Siwis memiliki Kartu Tanda Kerja Luar Negeri (KTKLN), menurut Basliyuzar, maka hak-hak korban akan diperjuangkan. Korban akan mendapat asuransi dari kilang tempat korban bekerja dari pemerintah Malaysia.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga akan mengeluarkan asuransi korban. ”Kita kroscek dulu di Sistem Informasi (Sinfo) KTKLN, apakah Siwis bekerja sebagai TKI. Jika Siwis sebagai TKI, maka pada paspor akan tertera,” katanya.

Kepala Bidang Penempatan dan Pengembangan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja Sumbar Zulkifli N mengatakan, Pemprov Sumbar sudah menyiapkan ambulans untuk mengantarkan jenazah ke kampungnya.
Namun, karena Pemkab Pessel sudah menyiapkan ambulans, maka ambulans pemprov tidak jadi digunakan.
Terpisah, Direktur LBH Padang, Era Purnama Sari menekankan pentingnya investigasi oleh tim bentukan pemerintahan dan Kementerian Ketenagakerjaan. Upaya itu dilakukan untuk memastikan kebenaran apakah betul WNI tersebut terlibat tindak pidana kriminal.

“Negara tetangga kita memang sudah kerap bertindak keras dengan WNI juga kan,” ujarnya.
Dia juga menyarankan agar pemerintah melakukan otopsi terhadap jenazah WNI, guna menemukan bukti pasti apakah jenazah benar ditembak atau tidak. Lalu, menyelidiki latar belakang sindikat WNI tersebut. “Jenazah harus diotopsi kembali, karena inilah upaya kita melindungi WNI,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Departemen Investigasi Kriminal Selangor Malaysia Datuk Mohd Adnan Abdullah seperti dilansir Utusan Online 26 Juni lalu mengatakan, tiga tersangka berusia 30-an tahun ditembak sekitar pukul 2 dini hari karena mencoba menyerang polisi saat berupaya melarikan diri karena ketahuan akan mencuri di sebuah rumah di Jalan Pulau Angsa U10, Bandar Nusa Rhu.

Mayat ketiganya dibawa ke Rumah Sakit Tengku Ampuan Rahimah Klang untuk otopsi.
“Anggota patroli yang kebetulan berada di daerah tersebut mencoba mencegat untuk melakukan pemeriksaan, tapi mereka mengeluarkan parang dan sejenis senjata menyerupai pistol sehingga polisi bertindak menembak untuk membela diri,” ujarnya. (*)

BTCClicks.com Banner
Previous
Next Post »
Thanks for your comment